.
Tampilkan postingan dengan label Kisah Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kisah Nyata Anak 6 Tahun Bertahan Hidup Sendiri, Hanya Ditemani Anjing


Kisah nyata ini terjadi pada tahun 2010 yang lalu, tentang seorang anak bernama Ah Long yang hidup sendiri di sebuah desa di kaki bukit Gunung Malu, Liuzhou di provinsi Guangxi, China. Umurnya baru 6 tahun, kedua orang tuanya telah meninggal dikarenakan mengidap penyakit AIDS berturut-turut di tahun 2008 dan 2010.

ah long

Orang-orang di sekitarnya mengucilkannya karena Ah Long dilahirkan dengan virus HIV yang mengalir di darahnya. Ah Long harus menjaga dirinya sendiri karena kebanyakan orang takut untuk mendekat, Satu-satunya sahabat sejatinya adalah anjingnya yang bernama Lao Hei yang selalu setia menemani disampingnya.

ah long

Satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah neneknya yang berusia 84 tahun. Kadang si nenek mengunjunginya dan memasak untuknya, namun tidak bersedia tinggal bersamanya. Karena penyakitnya, orang-orang di sekitarnya tidak menghiraukan Ah Long. Pihak sekolah tidak mau menerimanya lagi, bahkan para orang tua murid sepakat akan mencelakainya apabila Ah Long muncul ke sekolah dan bermain dengan anak-anak mereka.

ah long

Bahkan dokterpun enggan mengobatinya apabila Ah Long kecil sakit, penderitaan anak itu bertambah ketika  Departemen Kesejahteraan juga tidak mau mengurus anak tersebut. Biro Sipil setempat menyediakan dana sebesar 70 yuan per bulan atau sekitar Rp 90.000 per bulan.

ah long

Jumlah ini tidak cukup untuk anak kecil seumur Ah Long untuk hidup. Ah Long menjalani kehidupan sendiri. Dia menanam cabai, daun bawang dan memelihara ayam. Dia mencuci dan memasak sendiri. Dia tidur dan bermain dengan anjingnya.

Ada juga yang bersimpati dengan Ah Long dengan memberikan pakaian, makanan dan selimut bekas. Ada yang memberikan Ah Long 20 kilogram beras dan 5 kilogram mie, ada juga yang membawakan dia sebuah surat kabar mingguan untuk mengikuti berita dunia terbaru.

Sejak cerita Ah Long diangkat oleh media, ia mendapatkan banyak perhatian termasuk dari pemerintah Cina. Sebuah rumah amal di kota Liuzhou setuju untuk mengurusnya. Ah Long juga mendapat perhatian dari orang-orang yang baik hati. Ah Long pun dibangunkan rumah baru tepat di sebelah rumahnya yang lama dengan dua kamar tidur, satu ruang keluarga dan satu toilet.

ah long

Sebenarnya masih banyak bocah-bocah seperti Ah Long, tidak hanya di China di negara-negara lainpun mereka banyak yang diabaikan dan hidup sebatang kara. Hidup yang mereka jalani bukan kesalahan mereka, mereka tidak bisa memilih dilahirkan dengan mengidap HIV yang diturunkan oleh orang tuanya.

Foto-foto Ah Long yang lain (klik play) :


ah long
Ah Long walaupun dilarang sekolah dia tetap rajin belajar

ah long
Siap-siap untuk makan malam ya nak....??

ah long
Mencari kayu bakar sendiri di hutan untuk memasak makanan

ah long
Ah Long tanpa temen, tetapi tetap kelihatan riang selalu bermain

Bermain dengan sepeda pemberian dan anjing kesayangannya

Semoga cita-ciamu menjadi pemain bola tercapai nak....!

Ah Long mendapat tunjangan Rp 90 ribu per bulan... mana cukup??

Menanam cabe dan memetik hasilnya untuk lauk makan

Luka bakar di tangan Ah Long ketika memasak

Makanan yang sederhana ala Ah Long.....

Lihatlah anak seumur dia sudah mandiri, mandi sendiri

Menjadi seorang pesilat tangguh mungkin cita-cita Ah Long

Wajah yang sangat polos dari seorang bocah

Sumber : weirdasianews.com

Kreasi Unik Mengubah Besi Bekas Jadi Hiasan Unik


Banyak pilihan dalam mencari nafkah dalam hidup ini. Ada yang bekerja dan ada juga yang berwirausaha. Siapapun berhak memilih yang mana. Wirausaha menjadi pilihan Sdr. Wawang Supriyadi dengan kreasi unik mengubah besi bekas jadi hiasan unik. Kini desain-desainnya yang ter lahir lewat proses kreatifitas, diakui konsumen lokal bahkan hingga mancanegara. Pilihan berwirausaha diambil dengan tegas sesaat setelah Sdr. Wawang lulus kuliah. Kenapa? Kelulusannya disaat Krisis Moneter di tahun 1998 (pantesan!.. ^^). Kisah ini sungguh menarik bagi sobat yang berjiwa wirausaha.

Selepas menyelesaikan kuliahnya, tak ingin bergelut sebagai pegawai kantoran. Begitu, Wawang Supriyadi. Ia mencari ide usaha agar bebas mengekpresikan diri. Sambil mengenang, Wawang yang saat ini telah menjadi pengusaha miniatur alat transportasi dengan bendera Wirotocraft.

"Kebetulan saat itu Indonesia tengah di landa krisis," ucap laki-laki yang lulus pada 1998 tersebut.
Wawang mengaku tidak suka dengan kerja kantoran. Lebih senang dengan hobi membuat miniatur becak dan mobil. Dari kesenangannya sejak SMP, pria berambut cepak ini memutuskan untuk mencoba keahliannya.

Lulusan teknik sipil ini mulai bergerak. Merogoh kocek sendiri ditambah pinjaman dari keluarga, uang sebesar Rp 10 juta menjadi modal usahanya.

Dari uang itu, Wawang kemudian membelikan beberapa mesin pemotong, gerinda, penghalus, hingga membeli bahan aluminium dan tembaga bekas. Aluminium dan tembaga bekas ia yang peroleh dari pengumpul. "Sekilonya dulu masih murah, masih terjangkau dan mudah diperoleh," ujarnya.

Di rumah yang sekaligus berfungsi sebagai bengkel usahanya, di Jalan Benowo Winong KG III, Kawasan Kota Gede Yogyakarta, Wawang mula-mula bekerja dibantu seorang karyawan.
Disainnya yang lahir lewat proses kreativitas, diakui konsumennya. Pria berkulit sawo matang ini terkadang menelusuri berbagai jenis becak dan angkutan lawas, seperti kereta kuda dan motor besar. "Banyak juga yang murni dari hasil kreasi saya," kata dia.

Dari sini, Wawang lalu memasarkan hasil kreasinya ke beberapa outlet yang ramai wisatawan selain memajang di toko kerjanya. Ia menuai hasil menggembirakan. Para bule yang lalu lalang di kawasan itu menikamati surga kreativitas oleh-oleh Yogyakarta itu.
Wisatawan Eropa, khususnya Prancis, Belanda, dan Jerman memesan produk yang ia hasilkan. Produksi awal masih puluhan unit dengan belasan model. Sepuluh tahun kemudian, menjadi lebih dari 50 jenis dan 1.000 unit miniatur.

Berbagai bentuk minatur unik yang ia pasarkan antaralain alat transportasi dari jaman dulu seperti becak, andong, sepeda onthel, kereta kuda, hingga aneka motor gede. Belakangan, dia tak lagi terpaku pada alat transportasi saja, tetapi juga hewan, topeng yang menyapu peminat tak kalah jamak.
Saat masa jaya, pada 2005, Wawang mempekerjakan hingga 10 karyawan dengan nilai penjualan mencapai ratusan juta.

Gempa Menjadi Cobaan
Gempa bumi yang menimpa Yogyakarta dan sekitarnya sempat menjadi kesulitan tersendiri. Omzetnya turun menjadi setengahnya. Ditambah lagi, tak dapat memenuhi permintaan ekspor. Untunglah bantuan dari pemerintah setempat dan Departemen Perdagangan menyelamatkan usahanya.

Kini, kembali harga bahan baku yang membuat usahanya tersudut. Order kembali mengalir, namun bahan baku tak mencukupi akibat harga tinggi. "Bahan baku aluminium dan tembaga sulit diperoleh," tutur Wawang.
Wirotocraft kini memiliki tujuh karyawan. Pembuatan miniatur mendahulukan pelanggan dibanding eceran.
Hasil karyanya, Wawang mematok harga per unit mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 250 ribu per unit eceran. Sedangkan barang pesanan bisa mencapai jutaan rupiah per unitnya.

Omzet per bulan perusahaannya kini mencapai Rp 75 juta hingga Rp 100 juta. Kendala lainnya untuk pasaran ekspor, biasanya dikumpulkan di satu pedagang besar untuk diekspor ke negara tujuan. Kendalanya, Wawang menyatakan agak sulit dalam perputaran barang.

Salah satu cara agar usaha terus bergeliat Wawang rajin mengikuti pameran lokal dan internasional yang ada di Indonesia. Mengikuti pameran, Wawang mengakui dapat menutupi beban produksi dengan mengadakan perjanjian pembayaran uang muka bagi calon pembelinya.

"Saya mewajibkan pembayaran uang muka untuk pemesanan barang," katanya.
Benar saja, dalam pameran perdagangan kelas Internasional yang ia ikuti beberapa waktu lalu, konsumen asal Korea dan Asia Timur banyak yang menyambangi.

Agar bisa mengikuti keinginan pasar, Wirotocraft secara rutin mengikuti pembinaan dari Departemen Perdagangan, termasuk pameran. Wawang yakin disain yang kreatif takkan pernah kehilangan pembeli, dalam keadaan apapun.

Begitulah kawan sebuah keputusan harus dibarengi niat yang bulat. kata siapa kita tidak perlu kerja keras?.. Wirausaha itu butuh kerja keras. Setelah stabil barulah konsep Kerja cerdas bisa berjalan
Wahai sobat-sobat entrepreneur mari bersakit-sakit dahulu dan sukses kemudian.. Tetap semangat dan salam sukses buatmu sobat!!.. :)

Profil Rangga Umara, Pengusaha sukses Pecel Lele Lela

Woi!!.. Warga Bandung pastinya pernah mendengar tentang Pecel Lele Lela bukan?.. Bisnis pecel lele yang dikemas dari sesuatu kuliner BIASAmenjadi LUAR BIASA. sebenarnya point kesuksesannya itu saja. InilahProfil Rangga Umara, Pengusaha  sukses Pecel Lele Lela yang membuka cabang barunya di Jln. Surya Sumantri Bandung. Awal tekadnya dimulai ketika Sdr. Rangga Umara di-PHK di tahun 2006. Kisah dan kreatifitasnya mengolah pecel lela ini patut kita teladani bila sobat seorang wirausaha atau entrepreneur.



Berawal saat dirinya di PHK pada tahun 2006 lalu, membuat Rangga Umara (31) terpikir untuk berwirausaha. Ia pun memilih usaha pecel lele yang dinilainya mudah dijalankan. Siapa sangka, dengan melakukan inovasi pada ikan Lele kini Rangga telah memiliki 23 cabang dari Pecel Lele Lela.

Waktu di PHK, saya berpikir, kalau kerja lagi sama orang ya mungkin akhirnya di PHK lagi. Jadi saya memutuskan untuk membuka usaha saja,” ujar Rangga saat berbincang usai melaunching rumah makan Pecel Lele Lela cabang ke 23 yang berada di Jalan Surya Sumantri Bandung.

Bermodal Rp 3 juta, Rangga membuka usaha pecel lele di daerah Pondok Kelapa Jakarta Timur. Rangga sadar, pemain di bidang kuliner jumlahnya banyak. Akan sulit jika membuka usaha kuliner jika tak memiliki keunikan atau spesifikasi.

Coba saja lihat pecel lele yang selalu ada dimana-mana. Standarisasinya sama. Dari rodanya, sampai menunya,” katanya.

Menu pecel lele di pinggir jalan pun menurutnya tak setinggi ayam goreng. Penyebab orang tak suka lele menurutnya karena tampilan yang kurang menarik dan asal-usul makanan lele. Hingga akhirnya, dia mencoba berinovasi dengan ikan lele dengan menyajikannya secara berbeda. Diantaranya dengan membuat fillet lele dengan saus kreasinya.

Saya beri sampel pada pengunjung. Ternyata banyak yang suka,” kata Rangga yang sempat menjadi pekerja media di Bandung itu.

Tak berapa lama, penggemar Lele pun berdatangan dengan sendirinya. Apalagi setelah banyak diliput oleh media elektronik dan tv, semakin banyak saja yang penasaran dengan Pecel Lele Lela. Lela sendiri merupakan akronim dari kata Lebih Laku atau Lebih Laris.

Berbeda dengan pecel lele di pinggiran jalan, Pecel Lele Lela memiliki tempat yang bersih dan nyaman, maka jangan heran kalau harga lele di Pecel Lele Lela juga tak seperti pecel lele di pinggiran. Tapi harga yang harus dibayar rasanya sebanding dengan rasa dan kenyamanan yang didapat.

Cukup menarik bukan?.. Salut buatmu Bung Rangga..  Oke buat rekan-rekan entrepreneur tetap semangat dan terus berkreasi. Selamat berjuang  :)

Keberhasilan Butik Batik Online Ber-omzet Ratusan Juta

Bermain facebook, twitter dll tidak ada salahnya menurut admin.. Bahkan bila sobat jeli kegiatan ber-internet ria ini bisa menjadi lahan usaha anda. Bila anda punya produk maka bisa dibuat sebuah bisnis online. Misalnya saja keberhasilan Butik Batik online Ber-omzet ratusan juta milik Hita Erlangga. Di usia mudanya Dia berhasil dalam bisnisnya hanya dengan mengandalkan sarana online di internet. Selain having fun di internet alangkah baiknya sambil berbisnis yuk?.. Selamat mengikuti kisah Keberhasilan Hita Erlangga di bawah ini.



Merintis usaha ternyata bisa dimulai kapan saja dan dengan modal yang tak seberapa. Kalimat inilah yang meggambarkan kesuksesan Hita Erlangga (23) sebagai pengusaha muda yang berhasil meraup omset ratusan juta per bulan dari bisnis butik batik yang Ia kembangkan secara online.

Memiliki seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang batik, ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Hita Erlangga atau yang biasa akrab dipanggil Angga ini. Meskipun usianya masih sangat muda, Ia berani berkreasi dan berinovasi mengangkat ide sederhana menjadi ladang bisnis yang luar biasa.
Berbekal 10 potong baju batik dari dagangan sang bunda, tahun 2009 silam Angga mencoba menawarkan dagangan batiknya kepada teman-teman di kampusnya. Siapa sangka bila ide tersebut mendapatkan sambutan cukup bagus dari teman-teman mahasiswa.

Melihat respon pasar cukup positif, di akhir tahun 2009 Angga kembali berinovasi dengan memanfaatkan media sosial sebagai ladang promosi. Ketika itu Ia menggunakan facebook untuk menjaring konsumen seluas-luasnya. Terbukti, pesanan mengalir deras dan omset pun meningkat sangat pesat.

Yakin dengan potensi bisnis online yang pasarnya semakin luas, Angga pun tak ragu lagi untuk melebarkan sayapnya membuka toko online dengan membuat website berbayar. Menggunakan alamat batikdistro.com Angga mulai menawarkan beragam produk batik kepada konsumen di penjuru nusantara.

Membidik konsumen menengah ke bawah sebagai target utamanya, batikdistro.com menawarkan beberapa produk unggulan seperti kemeja batik laki-laki, jaket batik, batik sarimbit (batik couple), topi batik, kaos batik, serta gantungan kunci batik dengan harga yang terjangkau. Tidak heran bila sedikitnya sekitar 2.000-3.000 baju batik bisa terjual setiap bulannya.

Untuk mengoptimalkan pemasaran bisnis onlinenya, Angga membangun kepercayaan konsumen dengan mencantumkan testitomi dari setiap pembeli di toko onlinenya. Selain itu, Ia juga mencantumkan beberapa video dan gambar yang memuat keberadaan toko batiknya. Strategi tersebut bisa dikatakan cukup efektif, sehingga calon pembeli yang membaca testimoni dari para pelanggan mulai percaya dengan kualitas pelayanan yang diberikan batikdistro.com.

Tidak hanya itu saja, untuk meyakinkan konsumennya. Angga sengaja mencantumkan badan hukum usahanya di toko online yang Ia miliki. Hal ini sengaja dilakukan agar para konsumen mengetahui secara detail bahwa bisnis batiknya bukan toko fiktif yang selama ini ditakuti para konsumen di dunia maya.
Keberanian Hita Erlangga dalam merintis usaha dan kejeliannya dalam memanfaatkan pasar di dunia maya, kini mengantarkan bisnis butik batik online raup omset ratusan juta.

Bagaimana cukup menarik bukan? Segala sesuatu berasal dari niat dan tekad bukan? Bagi anda yang sedang memulai bisnis semoga sukses dan tetaplah berjuang.. :)

Mantan Office Boy Sukses Jadi Pengusaha Miliarder

Ini bukanlah cerita sinetron Kisah kesuksesan Agus Pramono memang layaknya sinetron. Bukan karena kebetulan dan rejeki nomplok seperti sinetron tapi murni dari kerja keras dan ridlo Illahi. Inilah Profil Agus Pramono, Mantan Office Boy Sukses Jadi Pengusaha Miliarder. Berawal dari keputus-asaan setelah menjadi mantan Office Boy dan dilanjutkan kerja kerasnya bertahun-tahun menjadi pedagang ayam bakar. Atas Ridla-Nya akhirnya Agus Pramono yang selalu belajar ini sukses menjadi pengusaha miliarder di Indonesia. Ikuti kisah dan penuturannya di bawah ini.
Kisah perjalanan hidup Agus Pramono (37) mirip cerita sinetron. 
Belasan tahun lalu, ketika pria kelahiran Madiun ini mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, ia memulainya dengan menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu ia beralih menjadi pedagang ayam bakar di pinggir jalan. Ternyata sukses. Kini Pramono sudah menjadi miliarder yang memiliki banyak usaha. Siapa yang tidak ngiler?

"Kalau cerita saya dibikin sinetron mungkin akan menarik," kata pria pemilik usaha Ayam Bakar Mas Mono ini ketika bercakap cakap dengan Warta Kota di salah satu kedainya di Jalan Tebet Raya No 57, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Namun, ayah satu anak yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. la meyakini, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin sukses mesti lewat perjuangan.

"Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur," ujar Pramono.

Awalnya, suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang.

Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit, dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00. Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.

"Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood," tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.

Pria yang menamatkan S3 (maksudnya tamat SD, SMP, SMA) di Madiun ini belakangan telah mahir menggunakan laptop dan dia menjadi salah seorang mentor nasional dari Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.

Menurut Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan karena dia tahu akari sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak macho dan keren.

"Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank," ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang telah bermilyar-milyar.

Senang Belajar Hal Baru
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.

Pramono benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya.

Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dari perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.

"Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari," ujarnya.

Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.

"Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya diri," tegas Pramono.

Terlepas dart peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam (ini jumlah sementara entah nambah berapa tahun 2012 ini). "Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya," kata Pramono (dikutip dari wartakota - kompas.com). 

Begitulah sobat sekelumit kisah Agus Pramono pengusaha sukses Ayam Bakar Mas Mono yang juga mantan Office boy ini. Cukup menarik bukan?. Hal ini menarik bagi admin karena secara pribadi admin lebih mengagumi dan menghargai proses serta kerja keras seseorang dalam meraih sukses daripada seseorang yang udah disetting masa depannya oleh orang tuanya. maaf.. ini cuma opini pribadi
Sebenarnya apapun kesuksesan itu baik asalkan disyukuri dan tetap ingat untak beramal dan bersedekah bagi sesama.Membagi Ilmu juga sebuah amal baik juga bukan?.. Selamat malam dan selamat beristirahat

Sumber : http://www.kompas.com

Ayahku Seorang Tukang Batu


Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.

Putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayahnya bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya membuatnya telah melukai hatinya.

Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu," keluhnya dalam hati.

Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, dengan raut penuh senyuman, si ayah berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini dimana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini."

Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."

Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalah seorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

Pembaca yang budiman,
Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan.
Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.
Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.
Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hari ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!

SOURCE

Kisah Seseorang yang Ditolak Bekerja di Microsoft

Seorang laki-laki pengangguran melamar posisi sebagai 'office boy' di Microsoft. 
Manajer HR mewawancarainya, kemudian melihatnya untuk membersihkan lantai sebagai ujian. 
"Anda bekerja", katanya. 
"Berikan alamat e-mail Anda dan saya akan mengirimkan aplikasi untuk diisi, juga tanggal ketika Anda dapat mulai bekerja." 
Pria itu menjawab, "Tapi saya tidak punya komputer, bahkan email". 
"Maafkan aku", kata manajer HR. Jika Anda tidak memiliki email, itu berarti Anda tidak ada. Dan siapa yang tidak ada, tidak dapat memiliki pekerjaan. " 
Orang itu tanpa harapan sama sekali. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dengan hanya memiliki uang $ 10 di saku. 
Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke supermarket dan membeli 10kg peti tomat. 
Dia kemudian menjual secara keliling tomat itu dari rumah ke rumah. 
Dalam waktu kurang dari dua jam, dia berhasil melipatgandakan modalnya. 
Dia mengulangi penjualannya secara keliling tiga kali, dan pulang dengan uang $ 60. 
Lelaki itu menyadari bahwa ia bisa bertahan hidup dengan berjualan tomat, dan dia mulai untuk pergi berjualan tomat sehari-hari dan sering pulang larut malam mendagangkan jualannya hari demi hari uang keuntungan yg didapat dua kali lipat atau tiga kali lipat dalam penjualannya sehari-hari. 
Tak lama, ia membeli mobil, lalu truk, dan kemudian ia mempunyai armada kendaraan pengiriman sendiri. 
5 tahun kemudian, orang itu menjadi salah satu pengusaha food retailer terbesar di Amerika Serikat. 
Ia mulai merencanakan masa depan keluarganya, dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa. 
Dia memanggil broker asuransi, dan memilih rencana perlindungan. 
Ketika percakapan broker bertanya tentang email yang akan dipakai untuk keperluan asuransi. 
Pria itu menjawab, "Aku tidak punya email." 
Broker itu menjawab ingin tahu mengapa ia tidak punya email, 
"Anda tidak memiliki email, namun telah berhasil membangun sebuah imperium perusahaan bisnis. Dapatkah Anda membayangkan apa yang bisa terjadi jika Anda memiliki email!!? " 
Pria itu berpikir sejenak dan menjawab, "Ya, aku akan menjadi seorang office boy di Microsoft!!" 

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup terlalu lama sehingga tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. Jangan pernah berhenti berusaha dan jangan menyerah karena gagal, serta berani melangkah.




SOURCE

Iklan Produk Pasutri

Inspirasi

Artikel Renungan

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Inspirasi Hidup - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger